Tuesday, July 29, 2008 | 9:13 AM

Kemis Pon, 24 Juli 2008


Ianya datang tanpa pesan, walaupun kemudian berlalu dengan kesan yang mendalam membawamu ke persinggahan lanjutmu

dari revolusi sesaat mu, aku melihat hanya kebaikan yang kau cari
ya.. revolusi, terjadinya berjalan drastis dan cepat,
bahkan aku pun tak tahu apa yang telah berlalu itu

tentang rencana indahNya tak ada satu makhluq yang bisa meraba
biarlah kebaikannya yang tersisa
kenanglah apa yang jadi bagiannya

disini aku hanya bisa memintakan ampun atasmu dikala kau tak lagi mampu
semoga sedikit dariku bisa menambah bekal dalam safarmu dan tedapat kebaikan untukku...

24 July 2008



Saturday, July 19, 2008 | 5:44 PM

Beware !! Syubhat-ware and syahwat-ware


Semenjak terlink nya dunia ini dengan perangkat internet yang mampu melintasi dimensi waktu dan jarak, maka timbul juga hal-hal negatif yang muncul, beberapa diantaranya adalah adanya Spyware, adware, dari sana kemudian saya coba menambahkan lagi perangkat-perangkat yang lain yaitu syubhatware dan syahwatware, istilah yang saya ada-adakan untuk melabeli segala sesuatu di dunia maya, yang secara sengaja atau tidak sengaja dituangkan yang berkonten hal-hal yang mengacu pada perusakan iman dari sisi syahwat dan syubhat.

Diantara dari mereka yang saya anggap sebagai syubhatware adalah web-web yang berisikan tentang pemahaman-pemahaman yang ke kiri dan ke kanan, ataupun bisa juga yang berusaha untuk mengajak lari ke kiri dan ke kanan, atau juga yang berusaha untuk membuat ragu atas jalan yang lurus.

Lalu filter apa yang sudah kita siapkan untuk melenyapkan anasir-anasir yang disusupkan melalui keduanya itu?
Segeralah instal ilmu yang haq, kemudian maintain dan upgrade selalu !!

Labels:



Monday, July 14, 2008 | 12:19 PM

DP (Duit Panjer)


“Berapa DP yang telah kita berikan untuk membeli rumah bertahtakan intan berlian, yang dihuni oleh para bidadari kelak, Apakah hanya dengan gemerincing koin akan dapat membelinya? Dan kemudian dengan sedikit itu lalu bertepuk dada, meyakikan diri telah membantu agama Nya? Tengok dan kemudian bandingkan dengan harta yang telah dititipkan oleh Nya.

Lalu kemudian apakah hanya dengan amalan yang sedikit yang tak lebih dari 10% dari kehidupan sehari hari, lantas kita mengharapkan akan memiliki kenikmatan yang tak pernah terukur oleh apapun di dunia? Tidak khawatirkah jika yang sedikit itu kelak bakalan ditolak, karena masih terselipnya riya’, sum’ah, ujub dsb, belum lagi berapa sering lontaran ghibah yang kita ucapkan yang akan menjadikan kita termasuk orang yang bangkrut?

Betapa kikir dan naïf manusia jika membandingkan pengorbanan untuk akhirat dan dunia.

Pakaian seadanya dipakai untuk menghadap Rabbnya, sedangkan pakaian kebesaran dipakai untuk mendatangi jamuan makan koleganya.
Uang berjuta bahkan milyaran ditanamkan untuk investasi dengan harapan mendapatkan kembalian harta dunia, sementara investasi akhirat tak pernah terlewatkan dari 2.5% nya”

Inspired by : Kajian Ust Ali Akbar
Jazakallahu khayr atas peringatannya.
Barakallahu fiik.



Tuesday, June 10, 2008 | 12:36 PM

Lain rasanya


Semua tahu bahwasannya belajar pada tataran teori sangatlah berbeda dengan aplikasi di lapangan.Kita belajar biologi, belajar mengenai darah. Ini begini itu begitu, sel-sel darah, dan macamnya, disodorin gambar-gambar detail. Kita enak saja mendengar, bahkan sambil makan pun juga bisa dilalui tanpa ada sedikitpun rasa aneh, jijik ataupun yang lainnyaTapi begitu melihat langsung, bwehh.. seribu satu perasaaan bakalan menderu, ada yang bergidik, ada kadang ngga' bisa makan berhari ataupun yang lainnya.

Atau kasus lain, semisal diterangkan mengenai rambu-rambu, kalau ada lampu kuning itu jangan diterjang, sekiranya masih dibelakang garis perempatan atau pertigaan maka hentikan kendaraan, so kalau liat lampu hijau jangan lantas stel kenceng aja, laju-laju perahu laju. Kalau ada orang lain yang ngga' mau nurutin aturan jangan ikuti, itu namanya melanggar aturan.Tapi begitu sampai di jalanan, yah emang susyeh bener dah nerapinnya. Paling clingak clinguk dulu apa ada kamera pas poto yang paling mahal bayarnya, alias kamera pak polisi yang bisa kena denda SGD 100. Kalau ga' ada..wes..ewes.. sambil bilang sluman slumun slameettt.. mu'un maap ye pak. nanggung banget mau ngerem pas lampu kuning, ini kaki malah nginjek gas.

Selanjutnya latar belakang dari tulisan ini adalah pas kemarin lalu, sama anak-istri jalan-jalan dan kebetulan mampir maghrib dulu.Kebetulan banget disitu ada ta'lim, tentang firaaq. Di awal mantep banget sepertinya, dalil-dalil sudah disampaikan, kemudian membahas tentang firaaq, salah satunya yang berhaluan tentang mujasim, alis menyamakan Alloh dengan makhluq, atau men-jasadkan diri Alloh.Pak Ustadz nya nerangin, (dengan gaya bahasa yang telah disesuaikan dengan tulisan ini)"emang sih, ada beberapa ulama yang mengatakan, kalau Alloh itu punya tangan, punya mata, punya kaki, tapi kalau mereka berpendapat seperti itu sama ertinya mereka menyamakan ALloh dengan makhluq dong, kan manusia juga tangan, mata, kaki dll, n then kalau sama dengan manusia, berarti Alloh lemah dong, kan manusia itu cuma makhluq yang lemah..hayooo"
wadaw... merinding juga ni dengernya, padahal udah sedikit banyak belajar tentang asma' wa shifat kok ya tergelitik juga ni rasanya.Kalau ga' ati-ati n senantiasa berdoa untuk memohon petunjuk supaya beristiqamah, bisa-bisa kelibas juga ni.Hmm...padahal ya..di awal-awalnya udah jelas-jelas dibilang sama itu Bapak "laisa kamitslihi syai'un, wahuwas sami'ul bashir"...nah di pemaparan kok cuma mentok di awal ayat aja pak, pokoknya ga' boleh disamain dalam semuaaaaaaa hal.bukannya di belakangnya dibilang kalo Alloh melihat dan mendengar, kenapa ga' disamakan juga, bahwa manusia itu juga melihat dan mendenger, haiwan pun juga melihat dan mendengar. gimana tu?ambil ini, buang itu. aduuuh.

Eh iya OOT bentaran, ngomong-ngomong, ambil sebagian, buang sebagian, jadi inget sama komentar2 orang ttg laskar-laskar swasta yang bermerk Islam, ada yang bilang "kelian ini yang ngga' seneng sama laskar itu, mbok ya jangan menghujat mereka, kan mereka itu berniat baik, lha wong pemerintah aja ga' bisa apa-apa kok, kelian ini menghujat sodara sesama Islam tapi membiarkan yang berbuat maksiyat"
haiyaaa.. lha bukannya pemerintah itu juga notabene sodara seiman juga, siapa sih yang bilang Pak Bambang itu bukan muslim, tapi nyatanya beliau ini banyak dihujat. Bahkan bukannya nyang namanya pemerintah harus mendapat porsi penghormatan yang lebih layak. Nah itu yang sok nasihatin lalu berdalih sok toleransi sesama sodara juga bagian ambil enaknya saja buang ngga' enaknya.

So kembali ke awal wacana bahwa ini, cerita diatas hanya satu contoh kasus saja..seringkali kita cuma baca di buku, denger di majelis, kenapa sih harus belajar tentang ini-itu, terus belajar hal-hal yang menyimpang segala, mbok ya wis kita saling toleransi ajah.. kan sama-sama sodara juga.ya itu tadi akibatnya, kalo ngga' mau belajar.. bisa-bisa dilibas sama-sama pendapat yang syad begituan.mungkin waktu denger ttg penjabaran penyimpangan2 itu, rasanya, ah masak iya sih masih ada yg berpikiran seperti itu..eh lha kok ternyata masih ada juga.Makanye.. belajar yang banyak, trus diamalin, berdoa yang banyak semoga sentiasa ditunjukkan ke jalan yang bener.

Labels:



Sunday, June 01, 2008 | 12:52 PM

Pribadi Terbaik Umat ini


Di antara ungkapan Al Haris Al Muhasibi yang cemerlang adalah:

"Ilmu itu melahirkan kekhawatiran (rasa takut kepada Alloh), sementara sikap zuhud melahirkan ketentraman dan ma'rifat itu melahirkan kepasrahan. Yang terbaik di antara ummat ini adalah yangtidak disibukkan oleh akhirat mereka sehingga lupa dunia, dan tidak disibukkan oleh dunia sehingga lupa akhirat"

Masih dikutip dari buku yang sama hal 215



Saturday, May 31, 2008 | 12:10 PM

Sibuk Mengurus Orang Lain adalah Kebodohan!


Problematika hubungan kemanusiaan adalah fenomena klasik dan modern. Sebagian orang ada yang bersikap terlalu berlebihan dalam membina hubungan kemanusiaan dan mencurahkan segala perhatiannya ke arah sana. Ada juga yang berusaha mengurus diri sendiri saja, serta menghindari segala interaksi sosial sebisa mungkin. Akhirnya ia jarang bertemu dan mengunjungi orang lain, tidak banyak berteman dan berkenalan.

Generasi As-salaf telah memandang persoalan ini dengan cermat sekali. Mereka hanya mengharuskan mengadakan hubungan sosial sebatas yang diwajibkan oleh Islam, seperti shalat jama'ah, shalat jum'at, menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, berbuat kebaikan kepada orang lain dan sejenisnya. Namun mereka melarang terlalu banyak mengurus orang lain dalam majelis-majelis yang menyebabkan banyak mengumbar omong kosong dan ucapan sia-sia. Mereka juga melarang menjadikan hubungan sosial itu sebagai sandaran, meskipun banyak orang yang senang berbuat demikian. Banyak orang memandang hubungan sosial itu sebagai legitimasi kepentingan mereka atau indikasi dari kekuatan pengaruh mereka.

Lihatlah Wahib bin Al-Warid, seorang ahli ibadah yang zuhud, bahkan digelari oleh Sufyan Ats-tsauri sebagai "sang Dokter". Beliau menceritakan pengalaman beliau melakukan hubungan sosial dengan masyarakat. Beliau berkata: "Aku telah bergaul dengan masyarakat selama lima puluh tahun, namun tidak pernah kudapatkan seorangpun diantara mereka yang bisa memaafkan dosaku sedikitpun atau berbaik kembali setelah kuputuskan hubungan dengannya, atau suka menutupi aibku atau membuat diriku tetap nyaman meskipun ia sedang marah. Maka sibuk mengurus mereka adalah kebodohan yang besar".

Yang beliau maksud, bahwa menggantungkan harapan kepada mereka, mencoba mencari pujian mereka, memperhatikan ucapan mereka dan penilaian mereka terhadap orang lain, berusaha membuat mereka senang. Kesemuanya itu adalah kesibukan yang tidak membawa keuntungan, membuat letih tapi tidak bermanfaat. Manusia tetap saja manusia, di jaman apapun mereka hidup. Membuat mereka senang adalah target yang tidak akan pernah bisa dicapai. Sikap bijak mereka terhadap orang lain juga hal yang tidak bisa direalisasikan. Lalu kenapa seorang sampai lupa dengan kepentingannya sendiri? Atau membuang-buang waktunya dengan angan-angan semacam itu? Padahal sudah dimaklumi, bahwa orang lain tidak akan memberinya manfaat sedikitpun, tidak mampu menguntungkan atau membahayakan dirinya sama sekali.

Sesungguhnya, selama seorang sudah menunaikan kewajiban sosial yang diwajibkan oleh Alloh terhadap keluarga dan teman-temannya, selama ia sudah melaksanakan kewajiban bekerjasama dengan masyarakat Muslim, tidak ada masalah bila ia hendak berkonsentrasi mengurus dirinya sendiri, memanfaatkan waktu untuk mencari ilmu yang berguna atau beramal shalih, atau merancang cita-cita yang bermanfaat.

Namun kalau sekedar "kembang majelis" atau omongan-omonga yang sia-sia, sibuk menceritakan aib orang lain, bukan berinstropeksi diri, dengan dalil untuk mengambil hati orang lain, mencari pujian, menarik perhatian mereka, itulah yang disebut Wahib sebagai kebodohan terbesar.

Hendaknya seorang itu membayangkan posisinya sendiri dan bagaimana orang lain menyikapinya. Kalau semua harta, kedudukan dan kesehatan sudah habis, siapa lagi diantara mereka yang masih menyukainya dan berusaha menyenangkan hatinya?

Tidak pernahkah ia mendengar ungkapan orang yang ditinggal oleh temen-temannya ketika ia sudah kehilangan jabatan, lalu ketika jabatan itu kembali kepadanya, teman-temannya itupun kembali. Ia berkata:
"Masa lalu sudah kembali lagi, silakan kalian kembali..."
Atau ungkapan orang yang berkata;
"Manusia adalah yang berkata kepada orang yang mendapatkan kebaikan: "Siapa yang suka? Ibu dari seorang pendosa saja melahirkan orang bernama Habal (seorang pahlawan)?"

Lalu apa lagi nilai dari omongan manusia yang dikejar-kejar oleh sebagian orang, namun dibenci oleh sebagian yang lain? Kondisi masyarakat itu sebagaimana yang diungkapkan Wahib:
"Tidak bisa memaafkan dosa sedikitpun atau hanya berbaik kepada orang yang tidak memutuskan hubungan dengannya, atau suka menutupi aib, atau membuat nyaman bila ia sedang marah."

Kita berlindung dari Rabb semua manusia, Yang berhak diibadahi oleh seluruh manusia, dari kejahatan orang yang suka membisikkan keburukan dan syetan yang suka bersembunyi, dari golongan jin dan manusia.

Disalin dari buku:
Haakadzaa.. Tahaddatsas Salaf
Edisi Indonesia "Potret Kehidupan Para Salaf"
Dr Musthafa Abdul Wahid
Hal 191-193, Cetakan ke 2
Pustaka At-tibyan



Saturday, May 03, 2008 | 8:30 AM

Kuliah


Q: Mas, sampeyan masuk UGM tahun berapa?
A: Saya? walah dek, kamu masih pake seragam putih merah, saya sudah nyanyi Hymne Gadjah Mada.

Seseorang menasihati waktu saya gagal lolos UMPTN 97:
Santai aja, tahun depan dicoba lagi, kalau udah masuk univ tu beda sama sekolah SD-SMP atau SMA, setaun lambat belum tentu ketinggalan seterusnya.

Seorang senior di kost berkata:
Kalau kuliah itu jangan sampai kehilangan momentum, momentum ilang satu semester tapi efeknya perkuliahan bisa molor 2-3 tahun

Labels: ,